December 28, 2009

Wanita penghuni neraka..

Dari: Adi Tiar Winarto
Ditulis dengan: Bahasa Indonesia


Judul ini tampak begitu mengerikan bagi kaum hawa dan bukan bermaksud menafikan bahwa laki-laki juga tidak akan menghuni neraka. Tetapi, wanita disebut secara khusus di Al-Qur`an dan hadits sebagai penghuni neraka yang paling banyak. Yang lebih menarik lagi, Al-Qur`an dengan jelas menyebut wanita yang berstatus sebagai istri diancam tempat kembalinya ke neraka, kenapa wanita yang belum menikah tidak disebut?

Rasulullah Muhammad saw dalam perjalanan hidupnya, pernah mengalami Isra Mi’raj, sehingga dengan izin Allah SWT, beliau diberikan kesempatan melihat keadaan surga dan neraka tempat kembali manusia pasca di dunia ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah saw menjelaskan hal tersebut dengan sabdanya; “Aku melihat ke dalam surga ternyata kebanyakan penghuninya orang-orang faqir dan aku melihat ke dalam neraka ternyata kebanyakan penghuninya para wanita." Dalam hadits yang lain disebutkan: “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah para wanita." Hadits riwayat Muslim.

Dari kedua hadits tersebut, sudah cukup jelas, bahwa wanita yang akan dijebloskan ke dalam neraka jauh lebih besar kuantitasnya. Berdasarkan Al-Quran dan hadits Rasulullah saw, berikut tiga kriteria wanita yang jaminannya dijebloskan ke dalam neraka.

Pertama, Istri yang Berkhianat Kepada Suaminya
Bentuk pengkhianatan seorang istri terhadap suami ini diumpamakan dengan khianatnya istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang terekam dalam surah At-Tahrim ayat 66: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat di atas, menekankan bahwa tidak ada jaminan suami yang shalih —hingga sekelas nabi pun— dapat mengajak istrinya ke jalan yang benar, ketika tidak ada cahaya iman di dalam hati sang istri. Dan sekali-kali keimanan suami juga tidak dapat memberikan manfaat apapun dan tidak bisa menahan keburukan bagi istrinya. Tidak salah jika dalam strategi dakwah Al-Qur`an, yang pertama kali perlu diselamatkan dari api neraka setelah diri sendiri adalah keluarga. Karena sejatinya, kedua objek dakwah tersebut merupakan yang tersulit daripada orang lain di luar diri dan keluarga kita.

Adapun bentuk pengkhianatan istri terhadap suami dalam ayat di atas, istri Nabi Nuh menyebarkan berita bahwa suaminya orang gila karena membuat perahu di saat tidak ada hujan dan air. Sementara khianat istri Nabi Luth karena membocorkan kedatangan tamu-tamu suaminya kepada kaum Nabi Luth yang gemar melakukan homo seksual. Jika diqiyaskan dengan kehidupan modern saat ini, tipe istri yang khianat seperti kedua istri nabi tersebut, mudah ditemukan sebagaimana yang sering ditampilkan di layar televisi.

Kedua, Istri yang Selalu Menghalang-halangi Dakwah Islam
Tipe istri yang memersulit dakwah Islam digambarkan oleh Al-Qur`an seperti istri Abu Lahab dalam surah Al-Masad (Al-Lahab) ayat 4-5: “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar, yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Para ahli tafsir, seperti At-Thabari, mengungkapkan alasan mengapa istri Abu Lahab ikut masuk neraka bersama suaminya, karena dia (istri Abu Lahab) selalu berusaha menyakiti Rasulullah dengan cara menebar duri di sepanjang jalan Rasulullah menuju shalat.

Adapun saat ini, tidak sedikit istri yang merasa berat atau kecewa jika sebagian harta suami dibelanjakan untuk kepentingan ummat, padahal sang istri sudah cukup dinafkahi.

Ketiga, wanita yang Kufur Terhadap Suaminya
Istri yang kufur terhadap suami adalah sikap tidak atau kurang bersyukur terhadap kebaikan (ihsan) yang telah diberikan suami kepadanya. Hal ini termasuk dosa besar, meskipun bukan berarti kekufuran ini mengeluarkan sang istri dari agama. Rasulullah SAW bersabda: “Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata penduduknya yang paling banyak adalah wanita, mereka kufur,” lalu ada yang bertanya; “Apakah mereka kufur terhadap Allah?” Dijawab oleh Nabi Muhammad saw; “Mereka kufur terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan (para suami), jikalau berbuat kebaikan kepada salah seorang di antara mereka selama satu tahun kemudian ia melihat sesuatu (keburukan) dari anda maka ia akan berkata: Aku tidak pernah melihat suatu kebaikan pun dari kamu.” Hadits riwayat Bukhari.

Imam Nawawi mengatakan bahwa kufur terhadap suami dan ihsannya termasuk dari dosa-dosa besar karena pengancamannya dengan api neraka. Inilah yang menjadikan tanda sebagaimana yang tersurat dalam hadits Nabi saw di atas, bahwa kufurnya istri ke suami adalah maksiat yang tergolong dosa besar.

Fenomena dewasa ini, saat istri ikut bekerja dan mempunyai penghasilan, sangat membuka peluang istri berbuat kufur terhadap suaminya. Terutama sekali, ketika istri merasa percaya diri dengan penghasilan yang diperolehnya, apalagi lebih besar dari sang suami. Menghindari ini semua, sebenarnya Islam telah mengatur posisi pria dan wanita dalam rumah tangga, hanya saja banyak yang tidak mengetahuinya dan melanggarnya. Wallahu’alam bi-sh-shawwab.



Read More......

December 27, 2009

Wahabi Tipu Al-Ibanah Lagi????

Dicopy dari: al-muwahhidun.blogspot dan http://maktabahonline.wordpress.com dan abul-jauzaa.blogspot.com

Petikan dari artikel Abu Syafiq

“Bahkan tertera pada cetakan kitab Al-Ibanah ‘An Usuli Ad-Diyanah oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ry yang diTahkik Oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud , Prof Di Universiti ‘ain Syam Kaherah Mesir cetakan 2 Tahun 1987 M didapati dalam kitab Al-Ibanah tersebut Al-Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ‘Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar tempat, bukanlah Allah diangkat oleh Arasy bahkan Arasy dan malaikat pemikul arasy-lah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaan-Nya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagungan-Nya” (selesai nukilan)


Berikut saya bawakan tulisan artikel dari saudara kami yang mulia, al-Ustaz Abul-Jauzaa’ hafizhahullah. Beliau membantah artikel tulisan Abu Syafiq yang bertajuk “Wahhabi Tipu Al-Ibanah Lagi” .Saya membahagikan artikel asli beliau kepada 2 yang bertajuk “Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy, Asyaa’irah (Asy’ariyyah), dan Bahasan Pemalsuan Kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah” dan mengubah format artikel seperti menambahkan tajuk pada poin-poin yang rasakan perlu bagi memperjelas kepada umat materi (bahan) yang diulas serta olahan bahasa kepada bahasa melayu Malaysia. Antara tambahan tajuk dari saya:

* Makna Istiwa’ dan Allah tidak memerlukan ‘Arsy
* I’tiqad Imam Syafie dalam masalah Sifat ‘Uluw

Silakan membaca:

‘Wahabi’ Telah Memalsukan Kitab Al-Ibaanah ?

Ustaz Abul Jauzaa menulis: Ini adalah tuduhan yang sering dilantunkan oleh kaum Asy’ariyyah kepada Ahlus-Sunnah. Sebelum ini mereka menolak penisbatan kitab Al-Ibaanah kepada Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah. Namun karena bukti-bukti yang ada sedemikian kuat menunjukkan bahwa kitab tersebut memang benar-benar karya Al-Imam Al-Asy’ariy[1], maka mereka beralih kepada tuduhan lain tentang adanya pemalsuan kitab tersebut. Saya ambil sedikit contoh dari perkataan mereka (yaitu perkataan orang yang sangat benci kepada dakwah salaf : Abu Syafiq Al-Ahbasyiy – yang kemudian banyak ditaqlidi oleh seorang jahil yang menamakan dirinya Salafytobat) :

“Al-Allamah al-Kauthari ada menyatakan pada pada muqaddimah kitab tabyin kizb al-muftari : Naskhah kitab al-Ibanah yang dicetak di India adalah merupakan naskhah yang telah dipalsukan sebahagian dari isinya, adalah menjadi kewajipan untuk mencetak semula sebagaimana yang asal dari manuskrip yang dipercayai.

Dr Abd rahman Badawi didalam kitabnya berjodol mazahib islamiyyin menyokong pandangan al-Kauthari dengan katanya :

Apa yang telah disebut oleh al-Kauthari adalah merupakan suatu yang benar , dimana kitab al-Ibanah telah dicetak semula di India dengan permainan pihak-pihak jahat”

Kita katakan :

Bagaimana bisa Al-Kautsariy (yang kemudian diamini oleh Abdurrahman Badawiy) mengatakan bahwa manuskrip yang ada di India adalah cetakan yang salah padahal ia tidak melakukan perbandingan dan penelitian di antara manuskrip-manuskrip yang ada ? Tidak lain ia mengatakan hal itu karena bertentangan dengan ‘aqidahnya yang Jahmiyyah. Bagi para peneliti, tentu tidak asing bagaimana talbis yang biasa dilakukan oleh Al-Kautsari ini, sebagaimana ia lakukan pada kitab Al-Baihaqiy yang berjudul Al-Asmaa’ wash-Shifaat. Sudah sangat dimaklumi bahwa tahqiq (penelitian) kitab tidaklah berkembang di kalangan ahlul-bida’. Mereka banyak menghukumi bukan berdasarkan ilmu, namun hanya berdasarkan hawa nafsu. Memang benar ada beberapa ‘kekeliruan’ pada manuskrip di India, namun itu jumlahnya sedikit. Dr. Shaalih bin Muqbil Al-‘Ashimiy hafidhahullah telah menulis untuk tesis Phd-nya tentang kitab Al-Ibaanah. Beliau banyak menelaah beberapa manuskrip kitab Al-Ibaanah diantaranya : Manuskrip yang tersimpan di Daarul-Kutub Al-Quumiyyah Al-Mishriyyah di Kairo, bernombor 107 & 377; manuskrip Hindiyyah yang tersimpan di Maktabah Jaami’ah ‘Utsmaniyyah di Heidar-Abad, nombor 502; manuskrip yang tersimpan di Maktabah Azhariyyah, nomor 904; dan lain-lain. Juga beberapa cetakan dari beberapa penerbit seperti : Cetakan Dr. Fauqiyyah Mahmud, Cet. Daarul-Bayan Beirut dengan pentahqiq Basyir ‘Uyuun, Cet. Daarun-Nafaais Beirut dengan pentahqiq ‘Abbas Shabbaagh, dan yang lainnya.

Oleh karena itu, perkataan mereka (= Abu Syafiq Al-Ahbasyiy) :

“Setelah merujuk kepada semua cetakan kitab Al-Ibanah”

adalah merupakan bualan semata. Kita ketahui bahwa seorang Abu Syafiq Al-Ahbasyiy tidak mempunyai kapasitas sebagai seorang pentahqiq. Selain disebabkan banyaknya kedustaan yang telah ia lakukan dalam banyak tulisannya, juga perlu kita tanyakan : ‘Dari mana ia mendapati semua cetakan ataupun manuskrip kitab Al-Ibaanah sebagai bahan untuk men-tahqiq satu kitab ? Sedangkan dalam tulisannya hanya tersebut dua cetakan saja (yaitu Cet. Dr. Fauqiyyah dan Cet. Universitas Islam Madinah !?! Bagaimana ia bisa melakukan perbandingan dan penelitian ?

Ia (Abu Syafiq Al-Ahbasyiy) mengatakan :

“Bahkan tertera pada cetakan kitab Al-Ibanah ‘An Usuli Ad-Diyanah oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ry yang diTahkik Oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud , Prof Di Universiti ‘ain Syam Kaherah Mesir cetakan 2 Tahun 1987 M didapati dalam kitab Al-Ibanah tersebut Al-Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ‘Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar tempat, bukanlah Allah diangkat oleh Arasy bahkan Arasy dan malaikat pemikul arasy-lah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaan-Nya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagungan-Nya”

Pernyataannya dan nukilannya ini justru semakin memperjelas pernyataan bahwa Abu Syafiq bukan merupakan orang berilmu yang mempunyai kemampuan melakukan penelitian terhadap kitab para ulama. Ia hanya membaca, menukil, dan membenarkan satu pernyataan yang berkesesuaian dengan hawa nafsunya.

Saya katakan : Justru cetakan Dr. Fauqiyyah Mahmud yang ia nukil – dan kemudian ia benarkan – tersebut merupakan cetakan yang terdapat banyak kekeliruan. Termasuk diantaranya adalah kalimat yang ia nukil di atas. Kalimat yang ia nukil tersebut merupakan tambahan yang tidak terdapat dalam manuskrip yang mahfuzh. Perhatikan lafaz cetakan Dr. Fauqiyyah di bawah :

وأن الله تعالى استوى على العرش على الوجه الذي قاله وبالمعنى الذي أراده استواء منزها عن الممارسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال لا يحمله العرش، بل العرش وحملته محمولون بلطف قدرته ومقهورون في قبضته وهو فوق العرش وفوق كل شيء إلى تخوم الثرى فوقية لا تزيده قربا إلى العرش والسماء بل هو رفيع الدرجات عن العرش كما أنه رفيع الدرجات عن الثرى وهو مع ذلك قريب من كل موجود وهو أقرب إلى العبد من حبل الوريد وهو على كل شيء شهيد

“Dan bahwasannya Allah ta’ala ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy dalam bentuk sebagaimana yang Ia firmankan. Adapun makna istiwaa’ sebagaimana yang dimaksudkan adalah : Terbebas dari bersentuhan, menetap, bertempat tinggal, mendiami, serta berpindah (tempat). ‘Arsy tidak membawa/mengangkat Allah, namun ‘Arsy dan malaikat pemikulnya lah yang dibawa/diangkat oleh Allah dengan kekuasaannya, serta dikuasai dalam genggaman-Nya; sedangkan Ia berada di atas ‘Arsy. Dan Allah berada di atas segala sesuatu. Keberadaan Allah di atas segala sesuatu (fauqiyyah) tidaklah menambah dekat kepada ‘Arsy dan langit. Namun hal itu menunjukkan makna tingginya kedudukan Allah dari ‘Arsy sebagaimana juga ketinggian kedudukan Allah dari muka bumi. Bersamaan dengan itu, Allah sangat dekat dengan segala sesuatu. Dia lebih dekat dengan hamba dari urat lehernya. Dan Allah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” [selesai].

Yang mahfuzh dari perkataan Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sebagaimana terdapat dalam beberapa manuskrip – sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Shaalih bin Muqbil Al-‘Ashimiy dalam desertasinya – adalah sebagai berikut :

وأن الله استوى على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى).

“Dan bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5)” [lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah oleh Abul-Hasan Al-Asy’ary hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1] – perhatikan kalimat yang saya garis bawah !!

Apalagi hal itu dikuatkan dari nukilan Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar sebagaimana telah lalu penyebutannya – yang sama seperti kalimat di atas tanpa ada penambahan. Hal yang sama oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Tabyiin Kadzibil-Muftariy hal. 158[2]; Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fataawaa 5/142, Dar’ut-Ta’arudl Al-‘Aql wan-Naql 7/104, dan Bayaan Talbiisil-Jahmiyyah 2/15; Ibnul-Qayyim dalam Ijtimaa’ul-Juyuusy Al-Islaamiyyah hal. 169; Ibnul-‘Imad dalam Syadzdzaraatudz-Dzahab 2/304; Al-Alusiy dalam Ruuhul-Ma’aaniy 1/60 (dengan peringkasan); ‘Abdul-Baqiy Al-Hanbaliy dalam Al-‘Ain wal-Atsar fii Mawaahibi Ahlil-Atsar hal. 111; dan lain-lain – dimana semua menukil/menyebutkan tanpa adanya penambahan kalimat dalam cetakan Dr. Fauqiyyah.

Perlu diketahui bahwa kalimat tambahan di atas hanya ada dalam naskah/manuskrip yang terdapat di Iskandariyyah yang kemudian dijadikan acuan dalam cetakan Dr. Fauqiyyah. Adapun dalam naskah-naskah (manuskrip) yang lain tidak terdapat tambahan kalimat tersebut. Selain itu, kelemahan naskah/manuskrip ini adalah tidak diketahuinya siapa yang menulisnya/menyalinnya dan tanggal penulisannya. Banyak hal yang menunjukkan kelemahan tambahan ini. Apalagi tambahan lafaz tersebut merupakan gaya khas Mu’tazilah yang banyak melakukan ta’wil (seperti Asy’ariyyuun) dimana madzhab ini telah ditinggalkan – dan bahkan dicela – oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah. Kuat penunjukkannya adanya tambahan ini berasal dari Al-Ghazaliy rahimahullah, karena tambahan lafadh ini hanya tertulis dalam tiga buah kitabnya, yaitu : Ihyaa ‘Uluumiddin 1/90, Al-Arba’iin fii Ushuuliddiin hal. 7-8, dan Qawaaidul-‘Aqaaid hal. 52.

Makna Istiwa’ dan Allah tidak memerlukan ‘Arsy

Scan kitab Al-Ibaanah hal. 9 (Daar Ibni Zaiduun) dapat dilihat di bawahibanah cover

ibanah isi

Kalangan salaf rahimahullah telah sepakat bahwa Allah ta’ala ber-istiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy dan tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari-Nya di antara perbuatan-perbuatan mereka. Makna istiwaa’ Allah adalah hakiki, bukan seperti istiwaa’ (bersemayam)-nya makhluk.

Dalam menafsirkan kata istiwaa’, kalangan salaf mempunyai empat ungkapan : al-‘ulluw (ketinggian), al-irtifa’ (meninggi), as-su’uud (naik), dan al-istiqrar (menetap). Allah ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy bukan karena Dia memerlukan ‘Arsy.

Banyak dalil yang mendasari tentang ‘aqidah ini, diantaranya :

Firman Allah ta’ala :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy” [QS. Al-A’raf : 54].

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan” [QS. Yunus : 3].

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” [QS. Huud : 7].

Juga sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

إن الله لما قضى الخلق، كتب عنده فوق عرشه: إن رحمتي سبقت غضبي

“Sesungguhnya Allah ketika Dia selesai menciptakan ciptaan-Nya, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya : Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku” [HR. Al-Bukhari no. 7422 dan Muslim no. 2751].

عن أنس قال : فكانت زينب تفخر على أزواج النبي صلى الله عليه وسلم تقول: زوَّجكنَّ أهاليكنَّ، وزوجني الله تعالى من فوق سبع سماوات

Dari Anas ia berkata : Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah ta’ala yang berada di atas tujuh langit” [HR. Al-Bukhari no. 7420].

I’tiqad Imam Syafie dalam masalah Sifat ‘Uluw

Diriwayatkan oleh Syaikhul-Islaam Abul-Hasan Al-Hakariy dan Al-Haafidh Abu Muhammad Al-Maqdisiy melalui isnad mereka yang sampai kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib; mereka berdua dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syaafi’iy, seorang pembela hadits rahimahullah. Beliau berkata :

القول في السنة التي أنا عليها، ورأيت عليها الذين رأيتهم، مثل سفيان ومالك وغيرهما، الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وأن الله على عرشه في سمائه، يقرب من خلقه كيف شاء، وينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء…. وذكر سائر الاعتقاد.

“Pendapatku tentang Sunnah, dimana aku berpegang kepadanya, dan juga berpegang kepadanya orang-orang yang aku lihat semisal Sufyan, Malik, dan lain-lain; yaitu pengakuan terhadap persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, dan bahwa Allah itu berada di atas ‘Arsy-Nya yang ada di langit-Nya. Dia mendekat kepada makhluk-Nya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun ke langit terendah menurut apa yang Dia kehendaki”. Lalu beliau (Al-Imam Asy-Syafi’iy) pun menyebutkan seleuruh i’tiqad-nya” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 176].

Oleh karena itu, makna istiwaa’ adalah sebagaimana zahirnya. Bukan di-ta’wil dengan istilaa’ (menguasai) sebagaimana diyakini oleh Asy’ariyyah – yang hal ini justru dibantah oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah dalam kitab Al-Ibaanah dan Maqaalatul-Islaamiyyiin, sebagaimana telah berlalu penyebutannya.

Mereka (ahlul-bida’) juga berkata :

Para pengkaji mendapati dua pasal dari kitab al-Ibanah yang telah dimuatkan di dalam kitab tabyin kizb al-muftari karangan Imam Ibnu Asakir dan kitab al-Ibanah yang berada dipasaran ternyata dengan jelas terdapat pemalsuan.

Contoh pemalsuan kitab al-Ibanah:

Kitab Ibanah yang berada dipasaran : halaman 16 (وأنكروا أن يكون له عينان…. )

Kalimah عينان dengan lafaz tathniah(menunjukkan dua).

Kitab Ibanah cetakkan Dr Fauqiyyah : halaman 22 (وأن له عينين بلا كيف….)

Kalimah yang digunakan juga adalah dari lafaz tathniah(menunjukkan dua).

Kitab Ibnu Asakir halaman 158 : (وأن له عينا بلا كيف….)

Kalimah yang digunakan adalah lafaz mufrad ( satu )

Kalimah mufrad adalah bertepatan dan tidak bertentangan dengan al-Kitab ,al-Sunnah dan pendapat-pendapat salaf.Ini kerana lafaz عينين tidak warid (datang) di dalam al-Kitab dan al-Sunnah. Ini kerana menduakan kalimah عين adalah dianggap mengkiaskan Allah dengan makhluk yang sesuatu yang dapat disaksikan secara zahir .Maha suci Allah dari yang demikian itu.

Ini adalah satu kedustaan sekaligus kejahilan dari si empunya kalam. Orang ini – dengan tulisannya di atas – semakin menunjukkan minimum-nya pengetahuan yang dimiliki. Namun sungguh disayangkan jika dia berpuas diri dengan statement tanpa erti.

Sudah sangat lazim bahwa di alam percetakan kitab terdapat banyak perbezaan lafaz. Jangan buru-buru menuduh adanya pemalsuan. Mungkin disebabkan oleh faktor teknikal pencetakan ataupun memang perbezaan manuskrip yang dijadikan acuan. Ini terjadi dalam cetakan kitab para ulama. Misalnya, tahqiq yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Mahmud Syaakir – ahli hadits Mesir – terhadap Tafsir Ath-Thabariy; Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth terhadap Jaami’ul-Ulum wal-Hikaam; Asy-Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman terhadap Al-I’tishaam lisy-Syaathibi; dan yang lainnya yang semuanya menjelaskan pada kita adanya perbedaan lafazh dalam beberapa cetakan kitab yang beredar. Kemudian, para muhaqqiq tersebut melakukan tashhih (pembetulan) atas beberapa manuskrip atau cetakan yang ada untuk menghasilkan satu matan kitab yang sesuai dengan aslinya.

Tentu saja kenyataan ini berbeda dengan ahlul-bid’ah yang jarang/tidak pernah melakukan penelitian, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya. Jika ia menemukan perbedaan lafazh dalam satu cetakan kitab, maka ia pilih yang sesuai dengan hawa nafsunya serta melemparkan tuduhan kepada pihak yang beseberangan dengannya sebagai pihak yang telah memalsukan kitab.

Kembali kepada kitab Al-Ibaanah, jika yang dipermasalahkan adalah kata mata/‘ain (عَيْنٌ) yang merupakan salah satu sifat dzatiyyah bagi Allah – apakah ia berbentuk mufrad (tunggal) atau mutsanna (mempunyai pengertian dua) –, maka seharusnya kita kembalikan kepada matan kitab Al-Ibaanah itu sendiri. Segala nukilan yang ada di kitab lain, maka itu bukan menjadi acuan utama. Bahkan jika ada perbedaan antara nukilan dengan matan kitab asli, kita harus mengembalikannya kepada matan kitab asli dan mengoreksi nukilan tersebut. Tidak terkecuali dalam permasalahan ini. Terdapat perbedaan lafazh dari manuskrip yang ada. Dr. Shaalih bin Muqbil Al-‘Ashimiy hafidhahullah dalam tesis-nya terhadap kitab Al-Ibaanah telah menjelaskan bahwa bentuk mufrad (tunggal) memang terdapat dalam salah satu naskah/manuskrip. Namun dalam naskah/manuskrip lainnya menggunakan bentuk mutsannaa (عَيْنَيْنِ). Dan inilah yang mu’tamad (sah) :

وأن له سبحانه عينين بلا كيف كما قال سبحانه : ( تجري بأعيننا ) من الآية ( 14 )

“Allah mempunyai dua mata tanpa ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14)”.

Dan seperti itulah yang dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw (hal. 262) dari kitab At-Tabyiin karangan Ibnu ‘Asaakir (sebagaimana telah disebutkan di atas).

Kalaulah hal ini dianggap sebagai satu perbezaan, maka perbezaan ini tidaklah bertentangan kerana Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah ingin menetapkan sifat ‘ain/mata pada Allah ta’ala – dimana hal itu dinafikan oleh Asy’ariyyah dan semisalnya.

Dalam Al-Qur’an, kata ‘ain disebutkan dalam bentuk mufrad yang di-idhafah-kan kepada dhamir mufrad, dan juga dalam bentuk jamak yang di-idhafah-kan kepada dhamir jamak.

Contoh kata ‘ain yang disebutkan dalam bentuk mufrad yang di-idhafah-kan kepada dhamir mufrad adalah :

وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

“Dan supaya kamu diasuh di bawah mata (pengawasan)-Ku” [QS. Thaha : 39].

Penyebutan kata ‘ain (mata) dalam bentuk mufrad di sini tidak berarti hanya menunjukkan satu ‘ain (mata) saja, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya” [QS. Ibraahiim : 34].

Yang dimaksud adalah, kenikmatan-Nya yang bemacam-macam yang tidak termasuk dalam pembatasan dan bilangan.

Contoh kata ‘ain yang disebutkan dalam bentuk jamak yang di-idhafah-kan kepada dlamir jamak adalah :

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” [QS. Ath-Thuur : 48].

Adapun penetapan sifat bahwasannya Allah mempunyai dua mata (‘ainaan – عَيْنَانِ) adalah hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله لا يخفى عليكم، إن الله ليس بأعور – وأشار بيده إلى عينه – وإن المسيح الدجال أعور العين اليمنى، كأن عينه عنبة طافية

“Sesungguhnya Allah tidaklah tersembunyi darimu. Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah mata-Nya” – Beliau mengatakan sambil berisyarat kepada matanya – . “Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan, seakan-akan buah anggur yang mengapung (menonjol keluar)” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Perkataan : ‘beliau mengatakan sambil berisyarat kepada matanya’ dalam hadits Dajjaal di atas menunjukkan bahwa makna ‘ain (mata) yang dinisbahkan kepada Allah adalah makna dhahir, bukan ta’wil sebagaimana diyakini oleh Asy’ariyyah. Mereka (Asy’ariyyah) menakwilkan sifat mata (‘ain) dengan ilmu (al-‘ilmu).

Hal senada dengan di atas adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

عن عطاء : عن ابن عباس رضي الله عنه في قوله عز وجل : (تَجْرِيْ بِأَعْيُنِنَا) [القمر : ١٤]. قَالَ : أشار بيده إلى عينيه.

Dari ‘Athaa’ : Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma mengenai firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14), maka ‘Athaa’ berkata : Ibnu ‘Abbas berisyarat dengan tangannya kepada dua matanya’ [Diriwayatkan oleh Al-Laalika’iy, 3/411; di dalam sanadnya terdapat ‘Aliy bin Shadaqah yang tidak diketemukan biografinya, adapun perawi yang lainnya adalah tsiqah – dinukil melalui perantaraan Al-Asyaa’irah fii Mizaani Ahlis-Sunnah oleh Faishal bin Qazaar Al-Jaasim, hal. 90; Al-Mabarratul-Khairiyyah li-‘Uluumil-Qur’an was-Sunnah, Cet. Thn. 1428, Kuwait].

Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma di atas untuk menetapkan sifat dua mata bagi Allah ta’ala, dengan perkataannya :

وَأَنَّهُ لَيسَ بِأَعْوَرَ بِقَولِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ : إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

“Bahwasannya Allah itu tidak buta sebelah mata-Nya dengan dasar sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan perihal Dajjaal, beliau bersabda : ‘Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah mata-Nya” [Thabaqaatul-Hanaabilah oleh Al-Qadli Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Terbitan Univ. Ummul-Qurra’, Cet. Thn. 1419].

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah juga berdalil dengan hadits di atas ketika menetapkan sifat ‘ain (mata) sebagai salah satu sifat dzatiyyah bagi Allah ta’ala [lihat Al-Asmaa’ wash-Shifaat oleh Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqiy, 2/114-115, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwadiy].

I’tiqad bahwasannya Allah mempunyai dua mata adalah i’tiqad para imam salaf Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah :

وقال أهل السنة وأصحاب الحديث‏:‏ ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وأنه على العرش كما قال عز وجل‏:‏ ‏”‏الرحمن على العرش استوى‏”‏ ولا نقدم بين يدي الله في القول بل نقول استوى بلا كيف وأنه نور كما قال تعالى‏:‏ ‏”الله نور السماوات والأرض‏”‏ وأن له وجهاً كما قال الله‏:‏ ‏”‏ويبقى وجه ربك‏”‏ وأن له يدين كما قال‏:‏ ‏”‏خلقت بيدي‏”‏ وأن له عينين كما قال‏:‏ ‏”‏تجري بأعيننا“‏

“Telah berkata Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits : Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai cahaya sebagaimana firman-Nya ta’ala : ‘Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi’ (QS. An-Nuur : 35). Dan bahwasannya Dia mempunyai wajah sebagaimana firman Allah : ‘Dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu’ (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dan bahwasannya Dia mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Dia mempunyai dua mata sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14)” [Maqaalatul-Islaamiyyiin oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 260-261, tahqiq : Muhammad Muhyiddin ‘Abdul-Hamiid; Maktabah An-Nahdlah Al-Mishriyyah, Cet. 1/1369 H].

Scan kitab Maqaalatul-Islaamiyyiin karya Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah, hal. 260-261 (Maktabah An-Nahdlah Al-Mishriyyah, Cet. 1/1369 H) dapat dilihat di bawah :

maqalat islamiyin 1maqalat islamiyin 2

Telah berkata Al-Imam Al-Laalika’iy rahimahullah :

سياق ما دل من كتاب الله عز وجل وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم على أن من صفات الله عز وجل الوجه والعينين واليدين

“Pembicaraan yang ditunjukkan oleh Kitabullah ‘azza wa jalla dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah : Termasuk sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla adalah (bahwa Dia mempunyai) wajah, dua mata, dan dua tangan” [Tahqiq Kitaab Syarh Ushuulil-I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah li-Abil-Qaasim Hibatullah Al-Laalikaiy oleh Ahmad bin Mas’ud Al-Hamdaan, 3/412; tesis Phd Universitas Ummul-Qurra’].

Telah berkata Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah :

فواجب على كل مؤمن أن يثبت الخالقه وبارئه ما ثبّت الخالق البارئ لنفسه، من العين، غير مؤمن : من ينفي عن الله تبارك وتعالى ما قد ثبته الله في محكم تنزيله، ببيان النبي صلى الله عليه وسلم الذي جعله الله مبينًا عنه، عز وجل، في قوله : (وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم)، فبين النبي صلى الله عليه وسلم أن الله عينين، فكان بيانه موافقًا لبيان محكم التنزيل، الذي هو مسطور بين الدفتين، مقروء في المحاريب الكتاتيب.

“Maka, wajib bagi setiap mukmin untuk menetapkan bagi Al-Khaaliq Al-Baari (Allah) apa-apa yang telah ditetapkan oleh Al-Khaaliq Al-Baari bagi diri-Nya, yaitu sifat ‘ain (mata). Sebaliknya, bukan termasuk golongan mukmin orang yang menafikkan dari Allah tabaaraka wa ta’ala apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam Muhkam At-Tanzil-Nya (Al-Qur’an) dan ditambah penjelasan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang memang dijadikan Allah sebagai juru penerang untuk setiap khabar yang berasal dari-Nya, melalui firman-Nya : ‘Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka’ (QS. An-Nahl : 44). Maka, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan bahwa bagi Allah itu mempunyai dua mata, dan penjelasannya itu sejalan dengan penjelasan Muhkam At-Tanzil (Al-Qur’an) yang tertera di antara lembaran-lembaran yang dibaca di mihrab-mihrab ataupun di tempat-tempat pengajian” [Kitaabut-Tauhiid wa Itsbaati Shifaatir-Rabb ‘Azza wa Jalla oleh Ibnu Khuzaimah, hal. 97, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz bin Ibrahim Asy-Syahwaan; Daar Ar-Rusyd, Cet. 1/1408 H].

Menetapkan sifat dua mata, dua tangan, wajah, kaki, jari-jari, dan yang lainnya dari sifat dzatiyyah Allah sebagaimana dhahir maknanya bukan merupakan tasybih (penyerupaan Allah kepada makhluk-Nya). Apalagi sampai menuduh sebagai mujassimah atau musyabbihah !

Al-Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata :

إنما يكون التشبيه إذا قال : يد مثل يدي أو سمع كسمعي، فهذا تشبيه. وأما إذا قال كما قال الله : يد وسمع وبصر، فلا يقول : كيف، ولايقول : مثل، فهذا لا يكون تشبيهاً، قال تعالى : (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

”Tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ”Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku”. Inilah yang dinamakan tasybih (penyerupaan). Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’Tangan, pendengaran, penglihatan’ , kemudian ia tidak menyatakan : ’bagaimana’ dan ’seperti’; maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Mukhtashar Al-’Ulluw lidz-Dzahabi, hal. 69].

Al-Imam Nu’aim bin Hammad Al-Khuzaa’iy Al-Haafidh rahimahullah berkata :

من شبه الله بخلقه، فقد كفر، ومن أنكر ما وصف به نفسه فقد كفر، وليس ما وصف به نفسه، ولا رسولُه تشبيهاً

”Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya, maka ia telah kafir. Dan tidaklah apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya dan (yang disifatkan) Rasul-Nya itu sebagai satu penyerupaan (tasybih)” [Mukhtashar Al-’Uluuw, hal. 184 no. 216, dengan sanad shahih].

Tuduhan mereka (ahlul-bid’ah) kepada Ahlus-Sunnah sebagai kaum Musyabbihah sudah terjadi semenjak beratus-ratus tahun yang lalu, sebagaimana dikatakan oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuniy rahimahullah :

وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة، وأظهر آياتهم وعلاماتهم شدة معاداتهم لحملة أخبار الني صلى الله عليه وسلم، واحتقارهم لهم وتسميتهم إياهم حشوية وجهلة وظاهرية ومشبهة، اعتقادا منهم في أخبار الرسول صلى الله عليه وسلم أنها بمعزل عن العلم، وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة، ووساوس صدورهم المظلمة، وهواجس قلوبهم الخالية من الخير، وحججهم العاطلة. أولئك الذين لعنهم الله

“Tanda-tanda bid’ah yang ada pada ahlul-bid’ah adalah sangat jelas. Dan tanda-tanda yang paling jelas adalah permusuhan mereka terhadap pembawa khabar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yaitu para ahlul-hadits), memandang rendah mereka, serta menamai mereka sebagai hasyawiyyah, orang-orang bodoh, dhahiriyyah, dan musyabbihah. Mereka meyakini bahwa hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengandung ilmu. Dan bahwasannya ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa setan kepada mereka dalam bentuk hasil pemikiran aka-akal rusak mereka, was-was yang terbisikkan dalam hati-hati mereka yang penuh kegelapan, dan hal-hal yang terlintas dalam hati mereka nan kosong dari kebaikan dan hujjah. Mereka adalah kaum yang dilaknat oleh Allah” [selesai].

Kesimpulan yang ingin ditekankan di point ini adalah bahwa klaim pemalsuan kitab Al-Ibaanah yang mereka tuduhkan kepada ‘Wahabi’ sama sekali tidak berdasar. Omong kosong belaka. Semakin banyak tuduhan mereka justru semakin mengungkap siapa sebenarnya mereka dan seberapa jauh keilmuan yang mereka miliki. Akhirnya, kita hanya berharap kepada Allah agar memberikan keistiqamahan kepada kita semua di atas manhaj yang haq, sekaligus memberikan petunjuk kepada mereka yang telah tersesat dari jalan-Nya yang lurus.

Oleh: Abu Al-Jauzaa’ – Perumahan Ciomas Permai, Bogor.

Dicopy dari: abul-jauzaa.blogspot.com

__

[1] Banyak ulama telah menuliskan perihal Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah beserta kitab Al-Ibanah-nya, diantaranya adalah : Al-Haafidh Ibnu ‘Asaakir dalam Tabyiinu Kadzibil-Muftariy, Al-Imam Al-Baihaqiy dalam Al-I’tiqaad, Al-Haafidh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, Al-Imam Ibnul-‘Imad dalam Syadzdzaratudz-Dzahab, dan yang lainnya.

[2] Namun dalam cetakan yang diberikan ta’liq oleh Al-Kautsariy, tambahan ini ia munculkan. Ia (Al-Kautsariy) melakukannya untuk menuruti hawa nafsunya, padahal hal ini tidak ada dalam naskah/manuskrip aslinya.



Read More......

Bantahan Terhadap Rencana “Bahaya Wahabi”

Dicopy dari: al-muwahhidun.blogspot dan http://maktabahonline.wordpress.com

Antara poin-poin penting di dalam artikel ini ialah:

* Keadaan di zaman Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab
* Syaikh Tidak Mencerca Ulama-Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah
* Tentang Masalah Bid’ah
* Islam Itu Mudah

Silakan membaca:

Bantahan Terhadap Rencana “Bahaya Wahabi”

Harian Metro telah memaparkan satu rencara (artikel) bertajuk Bahaya Wahabi yang ditulis oleh Roslan Ibrahim dan Mohd Fadly Samsudin. Artikel ini menjelaskan: “Aliran Wahabi ibarat api dalam sekam dan boleh mengancam negara dan menyebabkan umat Islam bergaduh sesama sendiri jika tidak dibendung pihak berkuasa agama di Malaysia.”

Dijelaskan lagi: “Bagaimanapun, secara halus mereka menyusup dalam kelompok masyarakat Islam di negara ini dengan menghina mazhab Ahlu Sunnah Wal-Jamaah yang menjadi rujukan umat Islam dengan membawa Islam mudah sehingga masyarakat keliru. Mazhab Ahlu-Sunnah dalam syariat beragama sangat penting bukan saja kepada umat Islam sendiri, malah seluruh masyarakat.”

Oleh itu, saya ingin menjawab beberapa masalah yang disentuh oleh penulis yang mana ianya sebenarnya hanyalah sebuah dusta yang dilemparkan terhadap “Wahabi” juga menjawab kepada para pembenci Wahabi yang tak pernah sudah mencari ruang untuk menebarkan fitnah mereka sama ada melalui internet, akhbar mahupun seminar-seminar yang mereka anjurkan.

Di dalam artikel tersebut penulis berkata: “GERAKAN Wahabi diasaskan Imam Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi (1703-1791). Beliau muncul ketika pengaruh mazhab Hambali sedang merosot dan umat Islam ketika itu melakukan pencemaran akidah seperti khurafat dan bidaah.”

Keadaan di zaman Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

Apa yang dinyatakan oleh penulis adalah benar, namun apakah ada kaitan dengan bahayanya wahabi (menurut penulis tersebut) kepada masyarakat seperti yang dikatakan, sedangkan perkara paling berbahaya yang sepatutnya hendak dihindari adalah pencemaran akidah, khurafat dan bid’ah tersebut. Apakah perbuatan Muhammad bin Abdul Wahab yang ingin membanteras itu semua salah?

Keadaan disekitar Najd ketika itu, penuh dengan kesyirikan, kejahilan serta kebid’ahan. Syeikh Ali Tantawi berkata: “Orang awam percaya mereka boleh mendapat kebaikan dan menjauhkan musibah dengan meminta kepada kubur-kubur Nabi dan orang-orang alim, termasuklah pokok-pokok, busut-busut serta patung-patung. Mereka menyeru kepada benda-benda ini dan mereka berkorban atas nama orang-orang tersebut. Memuji yang mati menjadi popular. Daerah yang paling banyak amalan jahiliah baru ini.” (Muhammad Ibn Abdul Wahab His Life-Story and Mission, hal 22)

Syeikh Abdul Latif bin Abdurrahman yang merupakan salah seorang ulama yang menjadi pengikut Muhammad bin Abdul Wahab berkata: “Orang-orang yang hidup semasa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab pada waktu itu benar-benar menderita krisis Islam yang cukup serius, sendi-sendi agama yang murni mengalami keruntuhan, tradisi ala jahiliah bermaharajalela di mana-mana, tanda-tanda syariat meredup, kebodohan dan penolakan terhadap Al-Quran dan sunnah Nabi semakin marak, seorang anak yang membesar sehingga memiliki uban tidak mengenal agama sama sekali, dan orang tua hingga nyanyuk hanya menerima cerita-cerita dukun dan toghut dari nenek moyang mereka. Mereka menanggalkan nilai-nilai agama, memohon pertolongan kepada selain Allah, dan bergantung kepada para wali, orang-orang soleh, patung-patung berhala dan syaitan.” (Hanya Islam Bukan Wahabi, Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Darul Falah, hal 20-21)

Demikianlah keadaan di Najd pada ketika itu yang sememangnya diperlukan suatu gerakan untuk mengembalikan dari kesyirikan kepada Tauhid dan daripada kebid’ahan kepada amalan-amalan yang sunnah. Maka sudah barang tentu dakwah yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sangatlah wajar untuk menjadi prioriti (keutamaan) sebagaimana Dr. Yusuf Al-Qardawi juga pernah mengulas tentang dakwah Syeikh di dalam kitabnya Fiqh Aulawiyat:

“Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memberi keutamaan dan tumpuan di dalam bidang Aqidah. Beliau memberi tumpuan utama terhadap penjagaan tauhid daripada sebarang perlakuan syirik terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala dan juga berusaha membanteras semua jenis khurafat yang berlaku di sekitar dan pada zaman beliau. Beliau komited dan istiqamah di dalam memastikan dakwahnya berjalan seiring dengan perbuatan dan perilaku di dalam memusnahkan segala bentuk perlakuan syirik dan khurafat. Sehinggalah beliau banyak menulis kitab-kitab dan surat-surat di dalam menjelaskan manhajnya.” (Dinukil daripada kertas kerja Seminar Antarabangsa Mengenai Syeikh Muhammad Abdul Wahab bertajuk “Jawapan kepada tohmahan-tohmahan terhadap Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab”, Syeikh Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish Al-‘Utaybi, hal 20.)

Seterusnya penulis artikel tersebut berkata: “Kehadiran golongan itu di sini dapat dirasakan berikutan ada pengikutnya berani mencerca ulama ahlu Sunnah Wal-Jamaah termasuk amalan sunat yang terdapat dalam ajaran Islam seperti doa qunut dan berzikir selepas solat. Aliran Wahabi ibarat api dalam sekam dan boleh mengancam negara dan menyebabkan umat Islam bergaduh sesama sendiri jika tidak dibendung pihak berkuasa agama di Malaysia.”

Syaikh Tidak Mencerca Ulama-Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Penulis tersebut membuat dakwaan sebagaimana juga dakwaan para penentang dakwah salafiah lainnya atau lebih dikenali dengan penyebutan yang mereka (para penentang salafi) menamakannya dengan “Wahabi”. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah pun mencerca ulama ahli sunnah bahkan beliau pernah menyuruh agar orang awam mengikuti mazhab-mazhab ahli sunnah dikalangan empat mazhab dan melarang keluar darinya.

Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, menulis dalam risalahnya sebagai ringkasan dari beberapa hasil karya ayahnya, Syeikh Ibnu Abdul Wahab, seperti berikut: “Bahawa mazhab kami dalam Ushuluddin (Tauhid) adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan cara (sistem) pemahaman kami adalah mengikuti cara Ulama Salaf. Sedangkan dalam hal masalah furu’ (fiqh) kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari (melarang) seseorang bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat. Dan kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seperti mazhab (Syi’ah yang terdiri daripada – edt) Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil. Malah kami memaksa mereka supaya bertaqlid (ikut) kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahawa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlaq, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nas yang jelas, baik dari Al-Quran mahupun Sunnah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang menasakhkannya, atau yang menkhususkannya atau yang menentangnya, lebih kuat daripadanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang Imam empat, maka kami mengambilnya dan kami meninggalkan mazhab yang kami anut (yakni mazhab Hanbali)…” (Shiyanah al-Insan, Syeikh Muhammad Basyir as-Sahsawani, hal 473)

Masalah doa qunut merupakan masalah furu’ (cabang) yang sebenarnya hanya dibesar-besarkan oleh golongan yang tidak mahu mendengar pendapat lain (terutama dalam mazhab Hanbali) walaupun yang sebenarnya pendapat tersebut merupakan salah satu pendapat anak murid Imam Asy-Syafi’i juga iaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah.

Syeikh Ibn Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Sekiranya makmum solat dibelakang Imam yang sentiasa membaca doa qunut dalam solat subuh, adakah makmum perlu mengikuti dan mengaminkan doa tersebut?

Maka syeikh Ibn Utsaimin pun menjawab: “Imam Ahmad (bin Hanbal) rahimahullah menegaskan perlu mengikuti dan mengaminkan doa qunut yang dibaca oleh Imam itu.” (Majmuk Fatawa Ibn ‘Utsaimin, jil 14, ms. 177)

Jika sekiranya seseorang yang berpendapat tidak ada qunut subuh melakukan solat dibelakang Imam yang berpendapat adanya qunut subuh, tetap sahaja dia perlu mengangkat tangannya bagi menepati Hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

Maksudnya: “Sesungguhnya dijadikan seorang Imam itu adalah untuk diikuti.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Namun yang sahihnya, qunut subuh tidak disyariatkan. Saya nukilkan perkataan Sayid Sabiq rahimahullah dalam bukunya Fiqhus Sunnah, beliau berkata:

“Adapun hadis yang kedua (yakni hadis yang menyatakan bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berqunut selama hayatnya – edt), maka di dalam sanad hadis itu ada seorang yang bernama Ja’far Ar-Razi. Dia bukan seorang yang kuat dan hadisnya tidak dapat dijadikan sebagai hujah, sebab tidak masuk dalam akal kita bahawa selama hidupnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berqunut dalam solat subuh, tetapi ditinggalkan begitu sahaja oleh para khalifah sesudahnya. Bahkan ada keterangan bahawa Anas sendiri juga tidak berqunut dalam solat subuh…” (Fiqhus Sunnah, Sayid Sabiq, -syamilah, 1/199)

Adapun dalam masalah zikir setelah solat, maka cukup kiranya saya membawakan pendapat Imam Syafi’i yang mana ianya menjadi pegangan bagi mereka yang menentang wahabi.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

واختيار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر

“Imam dan makmum boleh memilih sama ada ingin berzikir kepada Allah (atau tidak) selepas solat. Dan mereka hendaklah memperlahankan zikir kecuali dia merupakan seorang imam. Imam wajib mengajari makmum berzikir, maka hendaklah dia kuatkan zikirnya sehingga dia melihat bahawa telah dipelajari darinya (zikir-zikir tersebut). Kemudian hendaklah dia perlahankan semula. (Al-Umm, Kitab As-Solah, -Syamilah 1/150-)

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه ذلك لان عامة الروايات التى كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تهليل ولا تكبير وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصفت ويذكر انصرافه بلا ذكر وذكرت أم سلمة مكثه ولم يذكر جهرا وأحسبه لم يكث إلا ليذكر ذكرا غير جهر

“Aku berpendapat baginda (Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam) menguatkan suara ketika berzikir hanya untuk seketika sahaja. Tujuannya agar para sahabat dapat mempelajari zikir itu daripadanya. Ini kerana, kebanyakan riwayat yang telah kami tulis sama ada bersama kitab ini (Al-Umm) atau selainnya langsung tidak menyebut adanya bacaan tahlil atau takbir selepas baginda memberi salam. Kadang-kadang riwayat yang datang menyebut baginda berzikir selepas solat seperti apa yang aku nyatakan (secara kuat) dan kadangkala baginda beredar (meninggalkan saf) tanpa berzikir. Menurut apa yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, baginda tidak berzikir secara kuat selepas solat. Oleh itu, aku berpendapat bahawa baginda tidak akan duduk sama sekali kecuali berzikir tanpa dikuatkan suara.” (Al-Umm, – Syamilah 1/150-151-)

Penulis artikel berkata lagi: “Bagaimanapun, secara halus mereka menyusup dalam kelompok masyarakat Islam di negara ini dengan menghina mazhab Ahlu Sunnah Wal-Jamaah yang menjadi rujukan umat Islam dengan membawa Islam mudah sehingga masyarakat keliru.”

Saya katakan, yang sebenarnya penulis tersebut yang secara halus menyusup dalam kelompok masyarakat Islam di negara ini, menjadikan mereka pentaqlid (pengikut tanpa tahu dalil), tidak mahu mengkaji sejauh mana ketepatan pegangan mereka dalam sesuatu amalan tertentu. Sedangkan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berpesan:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت. وفي رواية: فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد.

“Jika kamu menemui dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam maka hendaklah kamu berkata dengan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan tinggalkanlah pendapatku itu.” Dan dalam riwayat yang lain: “Maka kamu mengikutinya dan janganlah kamu berpaling kepada pendapat seseorang.” (An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 1/63; dinukil dari buku Sifatus Solatin Nabi karya Al-Albani)

كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي

“Setiap masalah sahihnya hadis dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menurut ahli hadis itu bertentangan dengan apa yang aku katakan, pasti aku akan menariknya semula sama ada semasa hidupku mahupun setelah kewafatanku.” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/107; dinukil dari buku Sifatus Solatin Nabi karya Al-Albani)

Sungguh penulis artikel tersebut yang telah terkeliru dengan pendapat mereka melupakan pesanan-pesanan Imam Syafi’i rahimahullah ini sendiri. Wallahua’lam.

Penulis artikel berkata lagi: “Fahaman Wahabi turut menolak ijmak dan qias. Ijmak ialah persepakatan dalam hukum syarak di kalangan umat Islam dari satu zaman ke satu zaman selepas Nabi Muhamad s.a.w wafat.”

Inilah antara bahan-bahan dan argumentasi mereka untuk menolak kebenaran serta berkeras untuk terus bertaqlid dengan pegangan mereka semata dan tidak mahu orang lain berubah untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih. Sedangkan mereka tidak mempunyai bukti pada dakwaan mereka itu. Lihatlah ketika mana seorang lagi penentang wahabi negara ini yang bernama Zamihan Al-Ghari mengatakan pendukung Sunnah Malaysia Menolak Ijmak, maka alhamdulillah Dr. Azwira Abdul Aziz -semoga Allah menjaga beliau- telah membantah tuduhan tersebut dan begitu juga tuduhan-tuduhan yang lainnya yang berupa fitnah dan pembohongan di dalam bukunya “Siapakah Ahli Sunnah Yang Sebenar?” Lihat halaman 288 hingga 292. Silalah rujuk buku tersebut.

Seterusnya lagi penulis artikel tersebut berkata: “Menurut Ahli Jawatankuasa Pemantauan Akidah dan Pentauliahan Majlis Agama Islam Selangor (Mais), Ustaz Mahfuz Mohamad, fahaman Wahabi bertapak di negara ini sejak awal tahun 1900 apabila Sheikh Abdul Hadi membuka sekolah agama di Melaka. “Bagaimanapun, sekolah itu tidak mendapat sambutan dan beliau berpindah ke Pulau Pinang. Melalui sekolah itu lahir tokoh fahaman Wahabi iaitu Sheikh Abu Bakar al-Ashaari…” Sehingga beliau berkata: “Abu Bakar as-Ashaari pernah menerbitkan buku bertajuk Ibadah Rasulullah s.a.w yang menimbulkan keraguan kerana ‘menjelmakan’ petua menghalalkan memakan biawak, ular, labi-labi dan penyu.”

Untuk mengetahui dengan lebih lanjut perkembangan dakwah di Malaysia, silalah merujuk buku “Aliran Dakwah di Malaysia Satu Titik Pertemuan” karya Dr. Abdul Rahman Hj. Abdullah keluaran Karya Bestari. Di dalam buku ini dengan jelas menceritakan perjalanan dakwah di Malaysia dengan mengemukakan bukti-bukti melalui referensinya di bahagian akhir buku tersebut, sehingga kita dapat melihat perbezaan yang amat ketara sekali berbanding penceritaan yang dibawa oleh golongan yang membenci wahabi yang sering melontarkan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang tiada mempunyai bukti sekalipun.

Sewaktu timbul polemik yang hangat pada tahun 1958 sekitar buku “Ibadat Rasulullah” oleh Abu Bakar Al-Ashaari dari perlis, sehinggalah Mufti Johor memfatwakan bawa buku itu “penuh dengan kebohongan”, maka reaksi dari itu Prof. Dr. Hamka menulis satu buku yang berjudul “Teguran Suci Dan Jujur Terhadap Mufti Johor” untuk menjelaskan dan menegur fatwa Mufti tersebut. Saya tidak ingin membuat penyalinan yang panjang apa yang ditulis oleh Prof. Dr. Hamka tersebut. Apa yang ingin saya katakan, setelah saya membaca tulisan Prof. Dr. Hamka tersebut maka saya mendapati bahawa fatwa mufti Johor tersebut hanyalah jauh panggang dari api, ia sedikit pun tidak mengenai pada golongan yang disebut sebagai Kaum-Muda atau Wahabi itu. Bacalah buku tersebut bagi sesiapa yang ingin mengetahuinya.

Seterusnya lagi, penulis artikel Bahaya Wahabi dalam akhbar metro itu berkata lagi: “Merujuk kepada buku Makna Sebenar Bid’ah : Satu Penjelasan Rapi yang dikarang oleh Abdullah al-Siddiq al-Ghumari yang turut disemak oleh Mufti Negeri Sembilan Datuk Mohd Murtadza Ahmad, Bekas Mufti Wilayah Persekutuan, Datuk Md Hashim Yahya serta Yang di Pertua Persatuan Ulama Malaysia, Saleh Ahmad menyebutkan ulama bersepakat mengenai pembahagian bid’ah antara yang terpuji dan tercela. Orang pertama yang mengatakan demikian ialah Umar r.a.”

Tentang Masalah Bid’ah

Buku tersebut tidak lebih hanyalah hujah-hujah yang sudah berkali-kali diputarkan oleh mereka yang menentang wahabi kerana salah satu penyebab mereka membenci wahabi adalah wahabi menentang amalan bid’ah. Lalu mereka mulalah menimbulkan syubhat bahawa Saidina Umar Al-Khattab juga telah membuat bid’ah? Mereka mengambil perkataan Saidina Umar ini adalah dari hadis riwayat Bukhari, no: 2010.

Maka untuk menjawab syubhat ini, saya bawakan perkataan Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah, beliau berkata: “Adapun yang terdapat dalam perkataan ulama Salaf yang menganggap baik sebahagian bid’ah, maksudnya ialah bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah menurut syarak. Di antaranya perkataan Umar radiallahu ‘anhu tatkala memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan solat Terawih pada bulan ramadhan di satu tempat dengan dipimpin oleh seorang Imam, beliau berkata: “Inilah sebaik-baik bid’ah.” Dan yang dimaksudkan dengan perbuatan (Umar) ini, ianya tidak dilakukan dalam bentuk ini sebelumnya (yakni di zaman Abu Bakar radiallahu ‘anhu.). Akan tetapi, ianya ada asalnya pada syariat yang kembali kepadanya (kerana Nabi ada melakukannya).” (Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, jilid 2, ms. 128)

Syeikh Al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kebanyakan orang menggunakan perkataan Umar radiallahu ‘anhu sebagai dalil untuk mendokong adanya bid’ah hasanah. Sedangkan bid’ah di sini adalah penamaan secara bahasa bukan penamaan secara syarak. Dan demikian kerana erti bid’ah menurut bahasa merangkumi semua yang dikerjakan tanpa adanya contoh yang mendahuluinya. Adapun bid’ah menurut syarak ialah setiap apa-apa yang tidak ada dalil syarak yang menunjukkan amalan ini (disyariatkan).” (Iqtida’ As-Sirath Al-Mustaqim, ms. 308)

Syeikh Muhammad Rasyid Redha rahimahullah berkata: “Perkataan bid’ah mempunyai 2 pengertian:

[1] Dari segi bahasa: iaitu sesuatu yang baru yang ia tidak didahului oleh sesuatu contoh sebelumnya. Berdasarkan makna ini, benarlah perkataan mereka bahawa bid’ah menurut bahasa ini termasuk bahagian hukum yang lima. Sepertimana perkataan Umar radiallahu ‘anhu ketika beliau menyuruh manusia untuk melakukan solat Terawih secara berjemaah dengan seorang imam dengan ucapan “sebaik-baik bid’ah ialah ini.”

[2] Dari segi syarak: iaitu apa-apa yang tidak ada pada zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada perintah agama yang datang atasnya seperti masalah aqidah, ibadah, dan pengharaman sesuatu menurut agama sepertimana yang tersebut dalam hadis “Maka setiap apa yang diada-adakan adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Sesuatu masalah agama yang tidak tidak ada pada zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam adalah kesesatan. Kerana Allah Ta’ala telah pun menyempurnakan agama dan nikmatNya atas ciptaanNya. Maka tidak boleh seorangpun setelah Nabi s.a.w. menambah dalam perkara agama baik dalam masalah aqidah, ibadah, syi’ar Islam, tidak pula mengurangi dan merubah sifat yang ada di dalamnya seperti menjadikan solat jahriyah iaitu yang dikuatkan bacaannya, tidak pula sebaliknya. Juga tidak menjadikan sesuatu yang mutlak menjadi sesuatu yang tertentu disebabkan waktu, tempat, kesepakatan golongan tertentu, ataupun pendapat seseorang yang tidak datang dari pembuat syariat (Allah).” (Al-Luma’ Fi Ar-Rad ‘Ala Muhassini Al-Bida’, Abdul Qaiyum bin Muhammad Al-Syaibani, ms. 25-26)

Demikianlah Saidina Umar tidak berbuat bid’ah sedikit pun. Bahkan apa yang beliau lakukan adalah suatu sunnah yang dituntut, lebih-lebih lagi beliau adalah termasuk Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin yang direkomen untuk kita berpegang dengannya sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:

Daripada Al-Irbad bin Sariyah radiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada kami yang membuat hati kami bergetar dan berlinangan air mata. Kami berkata: “Wahai Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami. Maka baginda pun bersabda: “Aku berwasiat kepada kamu supaya kamu bertaqwa kepada Allah dan sentiasa mendengar dan taat walaupun orang yang memimpin kamu adalah hamba sahaya. Sesiapa dikalangan kamu yang panjang umurnya, nescaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah khulafa’ al-Rasyidin yang diberi petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kamu. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama). Kerana sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat.” (Hadis riwayat At-Tirmizi, no: 2815, Abu Daud, no: 3607, Ibn Majah, no: 42, Ahmad 4/126 dan lain-lain)

Dan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya pula berbunyi: Daripada Jabir bin Abdullah radiallahu ‘anhu bahawasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbahnya, bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam Dan seburuk-buruk perkara ialah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2002, An-Nasai, no: 1577, Abu Daud, no: 4607 dan lain-lain)

Ibn Rajab rahimahullah ketika mengulas sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam “Semua bid’ah adalah sesat.” Dia berkata: “Hadis ini di antara perkataan yang menyeluruh. Tidak ada suatu pun yang terkeluar daripadanya. Dan ia adalah usul yang agung yang merupakan usul agama.” (Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, jilid 2, ms. 128)

Ibn Hajar Al-’Asqalani rahimahullah pula berkata tentang hadis ini: “Kaedah syar’iyyah yang menyeluruh (terkandung dalam hadis ini). Adapun lafaznya, seolah-olah dikatakan: “Hukum ini adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat. Maka bid’ah itu tidak termasuk dari perkara syari’at kerana semua syari’at adalah petunjuk. Apabila telah tetap hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “Semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafaz ataupun makna dan inilah yang dimaksudkan.” (Fathul Baari, jilid 13, ms. 267)

Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhuma berkata: “Ikutilah oleh kamu akan perintah agama dan janganlah kamu mengada-adakan dalam urusan agama. Sesungguhnya kamu telah dicukupkan oleh agama ini. Dan semua bid’ah adalah sesat.” (Syarah I’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah, Al-Lalika-i, jilid 1, ms. 96, no: 104)

Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma pula berkata: “Semua bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggap bid’ah itu hasanah (baik).” (Syarah I’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah, 1/103 dan Al-Ibanah oleh Ibn Battah, jilid 1, ms. 339, no: 205)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Sesiapa yang membuat bid’ah dalam urusan agama Islam, dia menganggap bid’ah yang dilakukannya itu hasanah (baik), Maka sesungguhnya dia telah menyangka bahawa Muhammad s.a.w. telah mengkhianati Risalah, kerana sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agamaKu bagi kamu. Dan Aku telah redha bahawasanya Islam sebagai agama kamu.” (Al-Maidah: 3). Maka sesuatu yang tidak menjadi agama pada hari tersebut, ia tidaklah pula menjadi agama pada hari ini.” (Al-I’tisam oleh Imam Al-Syatibi, jilid 2, ms. 283)

Akhir sekali penulis tersebut berkata: “Kesimpulannya, dari segi tauhid, fahaman Wahabi bukan ajaran baru atau termasuk antara 73 cabang ajaran sesat, cuma ia boleh menimbulkan suasana tegang dalam masyarakat Islam kerana pendekatan yang diambil terlalu mudah tetapi bahaya.”

Islam Itu Mudah

Perkataan penulis ini kontradiksi, masakan wahabi bukan ajaran sesat dan tidak termasuk dalam 72 golongan yang sesat namun menimbulkan suasana tegang dalam masyarakat? Sepatutnya ajaran sesatlah yang menimbulkan ketegangan kerana mereka akan merosakkan aqidah para pengikut mereka dan kebanyakan mereka pula (ajaran sesat) suka mengambil jalan yang sukar dalam beragama, kononnya untuk mencapai ke peringkat makrifat atau hakikat dan sebagainya.

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

Maksudnya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Maksudnya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

وما جعل عليكم في الدين من حرج

Maksudnya: “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78)

Dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه

Maksudnya: “Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidaklah sekali-kali bagi seseorang yang menyukarkan agama ini, melainkan dia akan dikalahkan.” (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)

Sebenarnya yang cuba menimbulkan ketegangan adalah kelompok yang tidak mahu berganjak untuk berubah pandangan serta masih tetap berada dibawah tempurungnya, tidak mahu masyarakat mengetahui hal ehwal di luar lingkungan yang mazhab yang mereka anuti. Sedangkan begitu ramai masyarakat yang masih ketandusan ilmu yang benar, begitu juga dengan pegangan benar. Namun apabila ada golongan yang cuba menyebarkan dakwah yang benar ini, merekalah yang cuba menghalanginya dengan melemparkan syubhat mereka, supaya masyarakat tidak tahu akan hal sebenar, dan tetap bersama-sama mereka berada di bawah tempurung. Semoga Allah membuka hati mereka untuk menerima kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الأَلْبَابِ

Maksudnya: “Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar: 18)

Allahu a’lam





Read More......

Tolong, Jangan Jadikan Al-Azhar sebagai Pelarian!


Belek-belek Facebook, terjumpa facebook kawan lama di Pesantren Gontor dulu, dia sekarang sedang belajar di Universiti Al-Azhar, Mesir. Aku rasa tak rugi jika berkongsi bersama. Untuk mengambil 'ibrah mengikhlaskan niat kita untuk menuntut ilmu di jalan Allah, lebih-lebih lagi bagi mereka yang menuntu ilmu agama. Wallahua'alam.



Tulisan ini di tulis oleh : Jauhar Ridloni Marzuq
Dengan   : Bahasa Indonesia

 
Kalau mengikuti perhitungan tahun Masehi, saat ini Al Azhar telah memasuki umur yang 1039 tahun, sedangakan kalau menurut hitungan tahun Hijriyah, ia telah berumur 1071 tahun. Sebuah usia yang tidak bisa dianggap muda dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan.

Sedikit kita menengok sejarah, pada mulanya Universitas Al-Azhar adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Panglima Jauhar Ashshiqqilli atas prakarsa Khalifah Mu’iz lid- Dinillah dari Dinasti Fathimiyah yang beraliran Syiah pada 29 Jumadil Ula 359 Hijriyah atau 970 Masehi. Tapi sejak Sholahuddin al-Ayyubi berkuasa di Mesir, Al-Azhar dirombak total menjadi berhaluan Sunni hingga sekarang.

Di tengah umurnya yang sudah tua itu, Al-Azhar masih memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata, baik untuk umat Muslim di Mesir khususnya atau belahan dunia lain pada umumnya. Al-Azhar masih menjadi magnet kuat bagi para pelajar Muslim dari berbagai balahan dunia Islam. Ini terbukti dengan terus mengalirnya para pelajar asing yang ingin belajar di Universitas yang dipimpin oleh Syeikh Tantawi ini. Setiap tahun ribuan pelajar berdatangan untuk menimba ilmu di Al-Azhar, mulai dari belahan dunia timur seperti Australia, Rusia dan Cina sampai barat seperti Amerika, dan Negara-negara Eropa.

Selain karena “statusnya” sebagai universitas Islam tertua, Al-Azhar juga dianggap sebagai universitas yang mempunyai mahaj tawassut (moderat). Ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan dianggap rasional (tapi bukan rasionalis), moderat dan tidak ekstrim sehingga dapat diterima semua pihak.

Secara kuantititas, Indonesia adalah Negara pengirim pelajar terbanyak setelah Malaysia. Untuk tahun ini, ada sekitar 4000-an mahasiswa dari Indonesia yang menimba ilmu di universitas Islam tertua ini. Dan sekitar 100-an lainnya belajar di universitas lain seperti Universitas Kairo, Universitas Dual Arab, Dar el-Ifta dan lain sebagianya.

4000-an pelajar Indonesia ini datang dari berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari sabang sampai Merauke, bahkan ada sebagian yang berasal dari Timur Leste, tetapi terpaksa “nebeng” di Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) karena belum mempunyai perwakilan negara di sini.
Setiap tahun tak kurang dari 400-an pelajar Indonesia mengadu nasib untuk belajar di Mesir. Mereka datang dengan background yang berbeda-beda. Ada yang dari pondok pesantren (baik salaf maupun modern), Madrasah Aliyah (baik MA swasta, MAN, MAK), Sekolah Menengah Atas (SMA), sampai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK ). Yang tujuan mereka reltif sama: menimba ilmu agama.

Bagi para pelajar Indonesia, belajar di Mesir, khususnya Al-Azhar memang gampang-gampang susah. Gampang karena Mesir adalah salah satu negara Timur Tengah yang masih menerima para pelajar Indonesia yang ingin belajar di Al-Azhar dari dua jalur: jalur beasiswa dan non beasiswa. Sehingga bagi para pelajar yang “keberatan” untuk bersaing mendapatkan beasiswa, bisa langsung “terjun bebas” dengan biaya sendiri. Hal ini tentunya lebih mudah, karena kuota yang disediakan lebih besar, dan materi yang diujikan juga relative lebih mudah.

Keadaan ini berbeda dengan Saudi Arabia, Sudan, Libya atau Negara-negara Timur Tengah lainnya yang hanya menerima pelajar Indonesia melalui jalur beasiswa, sehingga kuotaya sangat terbatas, dan tidak ada peluang bagi mereka yang ingin terjun bebas.

Namun selain itu, untuk bisa belajar di Mesir juga dianggap susah. Tak lain adalah karena birokrasinya yang memusingkan. Dibanding negara-negara Arab lainnya, Mesir adalah negara yang paling ruwet birokrasinya. Bukan hanya di Mesir sendiri, Kedubes Mesir yang ada di Indonesia juga tidak ada bedanya. Proses keberangkatan pelajar Indonesia ke Mesir sampai saat ini masih menjadi penyakit akut yang belum bisa disembuhkan. Keberangkatan mereka selalu terlambat dari jadwal yang yang ditentukan, dikarenakan pengeluaran visa entri yang selalu molor. Tidak jarang ketika sampai di Mesir mereka langsung dihadapkan dengan ujian, tanpa ada persiapan. Bahkan tahun kemarin mereka harus kehilangan satu tahun ajaran, karena tidak mengikuti ujian pada termin pertama.

Menurutku keadaan (gampang-gapang susah) seperti ini melahirkan dua tipe mahasiswa (pelajar) Indonesia yang ada di Mesir. Kemudahan yang diberikan oleh pemerintah Mesir ini memberikan peluang besar kepada para pelajar Indonesia yang yang benar-benar memiliki azam kuat untuk belajar di Al-Azhar. Mereka yang telah sejak lama memimpikan untuk belajar di Al-Azhar seakan memiliki jalan terang untuk merealisasikan mimpinya itu. Mereka menjadikan Al-Azhar benar-benar sebagai tujuan untuk belajar.
Mereka yang yang bertipe seperti ini tidak akan menyia-nyiakan peluang yang diberikan, sehingga akan belajar sungguh-sungguh ketika sampai di Mesir, dan mencurahkan segenap kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Bagi mereka, kesempatan untuk menimba ilmu agama Islam dari sumber aslinya harus disyukuri dengan kesungguhan yang prima. Kuliyah, talaqqi, diskusi, nadwah ilmiyah dan kegiatan-kegitan yang menunjang keilmuan mereka adalah nafas mereka sehari-hari. Keadaan Mesir yang sangat bebas dan melenakan tidak akan memalingkan mereka dari tujuan utama kedatangan mereka ke Mesir ini.

Sedangkan tipe kedua, adalah mereka yang memanfaatkan keudahan ini untuk menjadikan Al-Azhar sebagai pelarian. Orang dengan tipe ini adalah mereka yang telah “putus asa” mencari tempat berpijak untuk melanjutkan studi di Indonesia. Mereka –biasanya-- adalah orang-orang yang telah melalang buana mengikuti ujian masuk di berbagai perguruan tinggi bergengsi di Indonesia, namun gagal. Mereka sebenarnya berbackground agama, tetapi silau dengan ilmu-ilmu umum yang mereka anggap lebih keren dan modern. Mereka selalu berambisi untuk belajar di universitas-universitas bergengsi dengan fakultas bergengsi pula, seperti Kedokteran, Ekonomi, Hubungan Internasional dan lain sebagainya, padahal pondasi keilmuan umum mereka sangat minim, sehingga kalah bersaing dengan mereka yang dasar ilmu umumnya lebih matang.

Ketika dalam keadaan seperti itu mereka akan mencari pelarian dan kembali ke “habitat” mereka, belajar ilmu agama. Dan Al-Azhar adalah salah satu korbannya. Al-Azhar bagi mereka adalah pelampiasan terakhir karena tidak ada pilihan lain, dan mudah untuk dimasuki. Hal ini tidak jauh berbeda dengan mereka yang belajar di IAIN atau UIN dengan maksud hanya untuk pelarian. Bedanya, Al-Azhar sedikit lebih “bergengsi”, apalagi dengan title “mahasiswa luar negeri”.

Mahasiswa yang seperti ini ketika di Mesir ibarat pepatah “Hidup segan mati tak mau”. Kuliyah nggak pernah, balik ke Indoesia juga nggak mau. Jangankan talaqqi, kuliyah saja bisa dihitung dengan jari. Bahkan tidak jarang yang hanya “mengunjungi” Al-Azhar ketika ujian tiba. Keadaan ini “dipersubur” dengan sistem perkuliyahan di Al-Azhar yang tidak meperhatikan absensi kehadiran bagi mahasiswanya. Bagi mereka yang penting adalah ijazah Al-Azhar-nya, bukan ilmunya. Mereka lebih suka nongkrong berja-jam di depan internet dan bergadang mebicarakan hal-hal yang tidak berguna sampai larut malam daripada kuliyah, diskusi atau kegiatan keilmuan lain. Tidak salah kalau mereka mengahabiskan waktu 6-8 tahun hanya untuk menyelesaikan jenang s1 saja, dan kalau pulang ke Indonesia pun hanya ijazah Al-Azhar yang dia bawa, ilmunya tak tahu entah kemana.

Bulan ini, Al-Azhar sedang bersiap-siap menghadapi gawe besar, yaitu ujian termin I. Mahasiswa Baru dari Indonesia pun sudah mulai berdatangan. Bagi mereka tulisan ini mungkin bisa dijadikan cerminan. Kalaupun mereka termasuk tipe pertama, aku sangat bersyukur alhamdulillah, namun apabila ada yang termasuk tipe kedua, aku harap untuk secepatnya merubah dan meluruskan niat. Al-Azhar terlalu berharga untuk dijadikan sebagai pelarian sobat. Ia terlalu agung hanya untuk dijadikan sebagai tempat minta tasdiq untuk mengurus beasiswa atau memperpanjang visa iqamah. Terakhir aku mohon kepada anda: tolong, jangan jadikan Al-Azhar sebagai pelarian!

Read More......

Di mana kita di akhirat kelak?

Pernahkah terdetik di hati bila kita akan mati? Adakah kita akan mati dalam keadaan sedang beriman kepada Allah ataupun ketika sedang bermaksiat kepadaNya?

Tulisan ini tidak bermaksud bahawa penulis sendiri lebih siap menghadapi kematian daripada pembaca, tulisan ini tak bermakna bahwa penulis lebih beriman dan bertaqwa daripada pembaca, namun tulisan ini adalah sedikit dari hasil pandangan penulis yang harus dikongsi bersama agar dapat mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari kehidupan ini.

Dalam Sahih Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: Aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarah lah kubur! Sesungguhnya di dalamnya terdapat mengingat akhirat.

Hidup di dunia ini hanyalah sementara, harta, anak-isteri tidaklah dapat dibawa bersama ke akhirat kelak. Ramai manusia yang mensia-siakannya. Sudahkah kita persiapkan bekalan untuk ke sana?

Ramai yang berkata, “sementara aku masih muda dan boleh enjoy, kenapa tidak aku memanfaatkannya, nanti kalau aku sudah tua barulah aku masuk ke masjid!” Seberapa yakinkah kita akan hidup esok hari? Bahkan satu saat selepas ini pun anda tidak tahu sampai bila anda akan hidup!.

Sesungguhnya kehidupan di akhirat kelak adalah kehidupan yang hakiki, sedangkan kehidupan di dunia ini hanyalah bagaikan fatamorgana.

Sebagai contoh; seorang musafir yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan berusaha untuk mencapai tujuannya. Itulah ibaratnya kita, yang sedang menuju ke tujuan yang hakiki iaitu akhirat.

Ketika kita sudah tahu tujuan utama kita adalah akhirat, muncul pertanyaan lain. Di manakah kita akan di tempatkan di akhirat kelak? Syurga atau neraka? Ramai yang yakin dan berkata; “Saya islam, macam mana jahatnya saya pun saya akan masuk ke syurga?”

Itulah yang terdetik di hati penulis dan itulah keyakinan penulis sebelum ini sehinggalah penulis terbaca firman Allah di dalam Al-Quran;

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Maksudnya: Adakah kalian menyangka kalian akan masuk ke syurga sedangkan belum datang kepada kalian (dugaan) sepertimana yang datang kepada (kaum-kaum) sebelum kalian, mereka diuji dengan kelaparan, bahaya dan gempa bumi sehinggakan Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: “Bilakah pertolongan Allah akan datang?”, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Al-Baqarah :214)

Adakah sudah datang cubaan, dugaan dan ujian kepada kita sepertimana mereka-mereka yang terdahulu? Kalau belum bagaimana kita berani berkata bahawa kita sudah siap masuk ke syurga.

Para ulama’ yang rajin beribadah siang dan malam selalu menangis mengharap rahmat dan kasih Allah agar mereka dikumpulkan bersama Rasulullah dan para sahabatnya di syurga kelak. Sedangkan kita? Semoga tulisan yang sedikit ini dapat mengubat hati, mencerahkan jiwa dan fikiran serta menambahkan motivasi kita untuk sentiasa beribadah kepada Allah.

Yakinlah, rahmat Allah sangat luas dan besar bagi hamba-hambaNya. Namun sebagai seorang hamba yang telah di berikan pelbagai macam nikmat. Hendaklah kita menambakan lagi kesyukuran kita dengan memperbanyakkan lagi ibadah kepadaNya.

Semoga penulis dan pembaca sekalian termasuk orang-orang yang dirahmati oleh Allah SWT dan dapat berkumpul di syurga FirdausNya kelak. Tinggalkan maksiat! Banyakkan ibadah!

Read More......

December 19, 2009

العقائد لأئمة الأربعة

قال الإمام أبي حنيفة رحمه الله


قال: (من قال لا أعرف الله أفي السماء أم في الأرض فقد كفر) قال الله تعالى ( الرحمن على العرش استوى) فإن قال أقول بهذه الآية ولكن لا أدري أين العرش في السماء أم في الأرض فقد كفر أيضا


و قال أيضا: (من قال أيضا لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقد كفر وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش في السماء أو في الرض, والله تعالى يدعي من أعلى لا من أسفل لأن الأسفل ليس وصف الربوبيى والألوهية في شيء



وقال الإمام مالك رحمه الله


(الله في السماء وعلمه في مكان لا يخلو منه مكان)



وقال الإمام الشافغي رحمه الله


القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم... الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء


وقال عبد الله بن أحمد بن حنبل رحمه الله


قيل لأبي: ربنا تبارك وتعالى فوق السماء السبعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان. قال: نعم لا يخلو شيء من علمه


وبعض الأدلة من القرآن والسنة


وقول الله تعالى: (وهو القاهر فوق عباده) سورة الأنعام: 18


وأيضا (الرحمن على العرش استوى) سورة طه: 5


و (سبح اسم ربك الأعلى) سورة الأعلى:1


قول النبي صلى الله عليه وسلم: (ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء يأتيني خبر السماء صبحا ومساء) صحيح بخاري 5-110 كتاب المغازي



وإليكم الأدلة من القرآن والسنة سأكتبها لكم في كتابتي الآتية إنشاء الله بموضوع ( الأدلة من القرآن والسنة التي تدل على أن الله في السماء) وليس في كل مكان كما زعم بعض الناس والله أعلم وصلى الله على  نبينا وحبينا محمد صلى الله عليه وسلم

Read More......

Refreshing sekejap..





Read More......

December 17, 2009

Kecewa...

Sedih, marah, kecewa, nak menangis pun ada semua perasaan negatif dan pesimistik aku rasakan. Entahlah, aku rasa di blog ni saja tempat aku nak meluahkan dan melampiaskan semua kekecewaan aku sebab memang dah lama aku pendam  perasaan ni, dan aku ingin meluahkannya kepada seseorang. Memang susah nak mencari kawan yang nak mendengar namun di sisi yang lain dapat menasihati diri dengan nasihat-nasihat yang berhikmah.

Kadang-kadang aku selalu berfikir, aku memang tidak dapat menjadi macam orang lain, tapi sekurang-kurang aku dapat berusaha untuk menjadi lebih baik, namun kesanggupan untuk menjadi orang baik itu selalu berganti kepada kebiasaan lama yang buruk, tak senang nak menjadi orang baik dan sangat senang menjadi orang jahat.

Entahlah, aku hari ini betul-betul kecewa, aku tak minta dihargai tapi sekurang-kurangnya anggaplah kewujudan aku ni sebagai orang yang berusaha untuk menghargai kawan-kawan yang lain. Dah bermacam-macam cara aku buat, dulu aku pernah mencuba untuk membuat sesuatu yang aku rasa benda tu akan membaikkan aku dengan kawan-kawan yang lain, tau apa yang terjadi? Ada seorang yang entahlah aku tak tahu dia busuk hati atau tidak tiba-tiba buat fitnah ke sana-sini. Kenapa? Aku selalu bertanya pada diri aku, apa salah aku dengan dia? Ketika aku mencapai puncak semua orang tak mendukung, ketika aku berada di bawah, hampir semua meremehkan.

Aku betul-betul memerlukan teman sejati yang dapat membantu aku untuk lebih maju lagi. Sejauh ini aku belum pernah nampak orang yang betul-betul ingin memperhatikan aku dan aku memperhatikan dia, yang menyayangi aku dan aku menyanyanginya, yang merindui aku ketika aku tidak ada dan aku merindui dia ketika dia tidak ada. Yang tersisa dari doaku sekarang hanyalah semoga Allah mempertemukan aku dengan sahabat yang akan membantu aku untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga.... InysAllah..

Read More......

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك

 

www.friendster.com/luthfi679 | www.luthfi679.blogspot.com